Friday, November 5, 2010

Tahu Campur Apa?

Cak Minto, dengan rambut kliwirnya yang khas, sedang beraksi melayani pelanggan


Baru dibilang saja, terdengar aneh. Tahu campur..... Campur apa? Nama yang aneh. Belum selesai sudah berhenti. Mungkin saja penemunya dulu belum sempat sebut nama belakang dari menu kuliner khas Lamongan ini, keburu dikeroyok pelanggan.

Nah, begitu hidangan ini hadir di meja, keanehan makin menjadi. Mana tahunya? Tunggu, masakan ini apa namanya tadi? Kali aja salah dengar atau salah baca...

Bener kok, namanya emang tahu campur. Tahu Campur Cak Minto....

Baru setelah dibolak-balik, tuh tahu yang dicari nongol. Empat cuil kecil tahu terselip di antara bongkahan-bongkahan daging sapi dan lembaran daun selada. Selain itu, juga tak ketinggalan kecambah, lentho, serta kuah kental penuh rempah.

Tak lama berselang, sendok dan garpu berperang. Duel maut berebut cepat memasukkan tahu campur ..... ke mulut.

Uenak... tenan... Tak heran kalau sang penemunya dulu tak sempat menyebut nama belakang si tahu campur ..... Keburu pelanggan seperti saya pesan untuk porsi ke dua...

Cak Minto pun hingga kini tak pernah tahu nama belakang dagangan yang dijualnya. Walau warungnya terkanal hingga manca, sepertinya ia masih saja berkeras menemukannya. Lihat saja rambutnya tumbuh tak terlalu subur di kepala bagian depan. Padahal bagian belakang gondrong sepunggung. Lebih parah lagi, anaknya yang masih balita juga harus berpikir keras memutar otak membantu mengobati rasa penasaran bapaknya. Akibatnya rambutnya mengalami hal sama dengan sang bapak.

Selamat berjuang, Cak Minto dan anaknya!

PS:
Bagi siapa saja yang tanpa sengaja membaca tulisan ini, mari kita dukung Cak Minto. Para pustakawan yang barang kali benemukan nama belakang tahu campur ..... Atau arkeolog yang menemukan prasasti tahu campur ..... Segera hubungi Cak Minto di tempat praktiknya di dekat Masjid Al Akbar Surabaya. Kalau kesulitan menemukan warung Cak Minto, sekali lagi, tanyakan pada peta berjalan. Siapa lagi kalau bukan Abang Becak. Salam.