Thursday, November 4, 2010

Kelontong 21


Tak ada yang tak mungkin kini. Abad 21 gitu loh... Tapi sebagai anak desa, untuk ke sekian kalinya aku masih takjub.

Di kampungku di Krambilsawit, sebuah dusun terpencil pedalaman Boyolali, hanya Mbah Sumarni dan Mbah Sukimin yang mampu bersaing dan menjadi rujukan orang sekampung untuk menghabiskan uang belanja. Mereka berdua dengan lihai memainkan peran sebagai penyedia segala kebutuhan.

Mbah Marni dan Mbah Suki adalah pahlawan. Dari gula, garam, kopi, mi instan, minuman ringan, obat batuk, obat pegel, minyak tanah, minyak goreng, rokok, permen, mobil mainan, sarung, mercon, kerupuk, tali pramuka, minyak angin, obak nyamuk, sabun, sampo, body lotion, bedak, lipstik, obat kuat, paku, kawat, es lilin, pembalut wanita, pupuk tanaman, dan semua yang kami butuhkan ada. Hebat ya, Mbah Marni dan Mbah Suki.

Sampai akhirnya aku pergi ke Surabaya, memasuki toko kelontongnya orang kota.

Wow, halamannya luas. Penuh dengan mobil dan motor yang dijaga ketat.

Wuih, barang yang dijual lebih lengkap seribu satu kali lipat.

Weleh-weleh, kasirnya berderet panjang dan pelayannya guanteng dan cuantik. Kayak di TV.

Tapi...

Wedus! Semua-mua muahalnya... Ampun...

Pancen iki Kelontong 21.