Saturday, November 13, 2010

Belum Apa-apa...

Angka 26 jika itu sebuah usia, maka udah lebih dari seperempat abad. Manusia telah dikatakan matang.


Sudah menjadi rutinitas selama dua tahun terakhir mengayuh sepeda tiap pagi dan sore hari. Menuju terminal angkudes untuk menyambung perjalanan berangkat dan pulang kerja di kota. Tumirin dengan telaten menempuh 4 km menggowes ria.

Namun pulangnya petang itu, ia akan menemui hal yang berbeda. Yang akan membuatnya ingin pingsan saja. Supaya besuk pagi tinggal lihat hasilnya. Namun ia pria yang kuat. Ia tak akan melewatkan saat-saat menegangkan ini sedetik pun.

Malam itu, waktu menjelang isya begitu lama. Tumirin muda usia 26 tahun tampak cemas. Bolak-balik antara rumah dan langgar (gazebo tempat sholat yang biasa dipakai berjamaah warga beberapa rumah). Kejutan kali ini seperti tahun lalu... Tumirin mengenang masa kelam itu.

Eko Sukmawan, bayi mungil putra pertamanya lahir. Seluruh keluarga besar menyambut gembira. Sampai akhirnya kegembiraan itu dipungkasi dengan berita duka. Hanya seminggu Eko Sukmawan menyapa dunia. Meninggalkan tangis dan tawa... Kilas balik kelabu itu meninggalkan jejak yang sulit terhapus waktu.

''Jangan timpakan cobaan yang tak bisa kusangga, ya Allah,'' hati Tumirin menjerit, memohon.

Tak lama kemudian, suara lirih dari balik kelambu memanggilnya. ''Mas, kemarilah...'' Sungguh, itu suara yang sanggup melelehkan hati Tumirin. Segera didatanginya panggilan itu.

Sebuah bilik berdinding papan kayu ukir, sisa kejayaan keluarganya. Di sana telah menunggu perempuan tua berselendang, juga perempuan muda yang terkulai di atas ranjang tikar pandan. Dukun bayi dan istri tercintanya, Maryam. Keringat mengalir deras, membasahi keduanya.

''Aku di sini, Sayang. Kuatlah...,'' kata Tumirin sambil membelai rambut Maryam yang kini bersandar di dadanya. Tumirin tak sanggup membendung air matanya. Laki-laki dengan kumis dan janggut tebal ini tak lagi sangar.


Setengah jam kemudian perjuangan istrinya bertaruh nyawa pun usai. Bayi laki mungil telah lahir. Bobotnya tak lebih dari 2,7 kilo gram. panjangnyapun tak sampai 45 centi meter.

Dinamainya pengembara baru itu, Ary Sulistyo.

***

26 tahun kemudian pengembaraan Ary Sang Putra Tumirin belum juga purna. Bahkan ujung perjalan belum tampak di kaki horison.

''Semua ini baru dimulai. Kerja belum selesai. Belum apa-apa...''