Thursday, December 2, 2010

Samiler

Menikmati samiler, kapan saja, di mana saja...

Atau oleh orang Gunung Kidul Jogja, disebut juga sermier. Ada juga yang menamakannya sadariah atau opak. Panganan desa konsumsi kelas jelata. Bahannya pun sederhana, singkong.

Di Surabaya banyak dijumpai samiler ini dijajakan dengan pikulan. Para penjualnya pun bisa dibilang orang-orang tua. Yang sudah menggeluti profesi ini sejak muda.

Bicara samiler adalah bicara para survivor. Mereka datang dari pelosok desa di Blora Jawa Tengah. Memikul dua kantung plastik raksasa penuh dengan samiler siap jual. Dengan menaiki kereta, mereka menuju Surabaya. Misi mereka satu, adalah secepat mungkin menghabiskan dagangan, lalu pulang. Membawa rejeki untuk nafkahi keluarga.

Namun waktu untuk menghabiskan dagangan tak cukup dua tiga hari. Bisa seminggu bahkan dua minggu. Tergantung rejeki. Yang penting banyak doa. Karena hanya Tuhan yang tahu.

Lalu di mana mereka beristirahat jika malam tiba? Jawabannya, di sarung dan kaos kaki. Soal tempat bisa di mana saja. Asal tak kena hujan, obrakan dan dipalak preman, emperan toko pun jadi. Tidur nyenyak menghimpun tenaga. Esoknya melanjutkan misi.

Bicara samiler juga mengingatkanku pada seorang teman. Samin Subeki. Pria kerempeng berkulit pucat asal Blora, teman serumahku dulu. Yang mengisi libur sekolah dan kuliah dengan memikul samiler. Kini sudah jadi PNS dia. Meninggalkan hidup sebagai penjaja samiler.

Walau telah jadi abdi negara, semoga semangat samiler terus mengalir di darahmu, Kawan... Sederhana dan merakyat...

Salam.