Sunday, January 9, 2011

Pengawas Gendut


Sejak kembali dari Tanah Suci, jarang sekali Bu Pengawas Gendut menjenguk LMI. Sebulan ini kehadirannya bisa dihitung jari sebelah tangan. Memang sudah bukan kewajibannya lagi untuk ngantor tiap hari. Kini ia menjadi fulltimer mom bagi putra semata wayangnya, Prince Sidqi. Aku sebagai anak pungut terpaksa rela ditinggal pergi.

''Aku seneng sampeyan ke sini,'' kataku saat Bu Pengawas Gendut sowan ke padepokan LMI, Jumat minggu lalu.

''Halah..,'' sahutnya.

Kini aku sudah kangen lagi. Ingat sentilan-sentilannya yang sering ia layangkan lewat pesan pendek.

Seperti SMS dialog imajiner saat aku tak hadiri rapat.

Nrl: what the hell are you doin' overthere?
Ary: nothin' I just can't join that boring forum.
Nrl: you say "can't"? It means you're really arrogant. Still remember what our Messenger said?
Ary: well, let's see. Really sorry being snob this morning.

Lagi, saat aku mbolos tanpa kabar.

''Aslm, Ary. Masuk kan? Jam brp? Sakitkah dikau? Tentu tidak, kan? Siapa yg menyakitimu? Bukan aku, kan? Jam brp smp LMI?''

''Jadi km tidak k LMI hari ini? Kmana manusia baru itu? Apa ia telah bereinkarnasi? Oh, malangnya.''

''Oh, hijrah juga dia? Ah, pejuang kita terlalu cepat kalah.., bahkan tdk punya nyali utk menghadapi perang yg jauh lebih hebat dari Perang Badar. Bersembunyilah di bunker barumu. Temukan hidup 'nyaman'-mu dsana. Kembalilah angkat senjata jika kau merasa siap dan tak lagi meratap. Selamat hari Jumat. GOD bless you.''

Kali lain, Bu Pengawas Gendut nuturi aku dengan menungguiku lembur hingga larut. Sambil tak berhenti ngomel tentang waktu untuk keluarga, kerja profesional, menghargai orang.

Kadang ia menungguiku lembur sambil diam terpekur. Yang seperti ini, ia menegaskan, ''Aku mengorbankan waktuku buat Sidqi hanya demi kunyuk yang tak becus kerja satu ini.''

Maafkan aku Prince Sidqi. Kukembalikan Bu Pengawas Gendutmu.