Thursday, November 24, 2011

Para Pengejar Matahari

Jemuran yang tak kering tanpa matahari
"Nitip njemur baju di sini ya, Om," kata Mbak Sri sambil menyiapkan jemuran dari kayu dan membawa seember penuh baju basah habis dicuci. "Ngejar matahari, kalo sore mesti hujan," ujar ibu dua putra ini. Kebetulan rumahku menghadap timur. Sehingga depan rumah selalu bermandikan sinar matahari pagi.


Musim hujan kembali menyapa. Saatnya Malaikat Mikail sibuk membuka dan menutup kran hujan. Begitu pula para ibu yang kudu lebih peka melihat tanda dari langit. Harus lebih jeli mengolah jadwal kerjanya. Sebab jika perhitungan dan prediksi mereka tidak tepat, akan kacau tatanan peradaban.

Kok bisa begitu?

Tentu bisa. Bayangkan saja jika baju yang kita pakai kotor, kemudian dicuci, kemudian tak kering karena matahari nggak nongol, sementara baju serep di lemari sudah habis. Mau menutupi badan pakai daun pisang?

Ya kalau kita mau pakai baju yang gak di cuci, atau mau pakai baju basah yang gak dijemur, masalah akan selesai. Namun masalah akan jadi panjang kalau sampai pakai daun dan kulit hewan buat nutupi malu. Wah, balik maning ke jaman purba.

Oleh karenanya, berterimakasihlah pada para pengejar matahari. Yang biasanya peran ini dimainkan dengan baik oleh ibu atau istri kita, juga para asisten rumah tangga.