Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Monday, December 10, 2012

Skotel & Kroket Topping Abon

Skotel dan Kroket bikinan pacar...
Namanya tidak dikenal di bahasa Indonesia apalagi bahasa Jawa. Skotel, kroket, dll. Namun memakannya dan kemudian menceritakan pada khalayak bisa bikin merasa hebat. Dan khalayak pun mengamini. Yang tidak Indonesia, apalagi Jawa, adalah memang prestisius. Mungkin kita telah tanpa sadar tercerabut dari akar budaya.

Namun, dengan kreatifitas, yang tidak Indonesia ini bisa "dinasionalisasi". Misalnya saja seperti yang dilakukan pacar saya. Skotel dan kroket ini dikreasi dengan cermat dan cerdas, dengan dikombinasi topping abon sapi. Olahan daging sapi yang dikeringkan bersama rempah-rempah ini asli Indonesia lho... :)

Sunday, January 29, 2012

Hitamnya Rawon

Rawon Mojoagung, terletak di pinggir jalan Mojoagung-Ngoro.

Sepuluh tahun yang lalu saya berkenalan dengan rawon. Kuliner asal Surabaya yang khas dengan racikan bumbu yang pekat dan kuah hitam kluwek. Pada pandangan pertama saya merasa ini bukan makanan yang layak mengganjal perut. Warnanya yang gelap terasa tidak manusiawi.

Apalagi kala itu rawon yang disuguhkan adalah hasil karya Mbah Ti, mertua pamanku yang mantan koki. Ia memang terkenal berani dalam meracik bumbu.

Namun masakan Mbah Ti sungguh luar biasa. Hitamnya kluwek kalah oleh aroma yang begitu menggoda. Karena penasaran, kucicipi juga masakan aneh itu. Kini aku menjadi penikmat rawon.

Di kesempatan lain, seorang teman kuliah mengajakku mencicipi rawon terkenal di Kota Pahlawan ini. Bahkan Pak Bondan Si Tukang Wisata Kuliner memberikan predikat "mak nyus". Mungkin Anda sudah tahu depot rawon di Jl. Embong Malang, Surabaya ini. Ya, Rawon Setan.

Setengah tahun terakhir aku sedang menggandrungi Rawon Mojoagung yang terletak sekitar satu kilo meter di sebelah selatan Tugu Bambu Runcing Mojoagung Jombang. Kebetulan jalurku sambang mertua, Surbaya-Kediri, melewatinya. Walau tempatnya sederhana dan pelanggannya kebanyakan kru armada truk antar kota, rawon yang satu ini layak Anda coba. Insyaallah, mak nyus...

Sunday, March 13, 2011

Kuliner Nostalgia

Sedia tiwul, srawut, gempo, bemblong, gathot.

Jaman perjuangan meninggalkan banyak cerita. Hampir semua berkisah tentang kesedihan. Dari pakaian berbahan karung goni, makanan dari pokok pisang, juga bambu runcing lawan senapan.

Satu yang tak kalah dramatis adalah kemewahan makan makanan berbahan singkong. Seperti tiwul, srawut, gemblong, gempo, bakmi.

"Panganan kok ora maregi," kata embah saat melihatku memakan jajanan instan. Saat mendengar komentar itu dua puluh tahun lalu, aku hanya mencibir. Kini baru kusadari, kata-kata itu begitu dalam.

'Maregi', asal kata 'wareg' yang berarti kenyang, dengan awalan me- dan akhiran -i membentuk kata sifat. Maregi berarti mengenyangkan.

Jaman dulu, kenyang berarti hidup dan menghidupi. Maka tak heran jika kita perhatikan, hampir semua kreasi panganan dari singkong warisan leluhur, selalu berat dan bikin kenyang. Karena kenyang berarti siap banting tulang. Walau tiwul hanya berbumbu garam agar lebih mudah ditelan.

Kini Indonesia lama telah merdeka. Setidaknya selain asinnya garam, manisnya gula sudah tidak tabu dirasakan rakyat jelata. Dan panganan dari singkong telah jadi makanan nostalgia yang manis karena telah berbumbu gula.

Seperti yang disediakan seorang 'penjual kenangan' di mulut Gang Dharmahusada I. Namun, maaf jika yang Anda temui di sana tak lagi autentik. Karena jika hanya berbumbu garam tak lagi menarik.

Salam Anak Singkong!

Friday, November 5, 2010

Tahu Campur Apa?

Cak Minto, dengan rambut kliwirnya yang khas, sedang beraksi melayani pelanggan


Baru dibilang saja, terdengar aneh. Tahu campur..... Campur apa? Nama yang aneh. Belum selesai sudah berhenti. Mungkin saja penemunya dulu belum sempat sebut nama belakang dari menu kuliner khas Lamongan ini, keburu dikeroyok pelanggan.

Nah, begitu hidangan ini hadir di meja, keanehan makin menjadi. Mana tahunya? Tunggu, masakan ini apa namanya tadi? Kali aja salah dengar atau salah baca...

Bener kok, namanya emang tahu campur. Tahu Campur Cak Minto....

Baru setelah dibolak-balik, tuh tahu yang dicari nongol. Empat cuil kecil tahu terselip di antara bongkahan-bongkahan daging sapi dan lembaran daun selada. Selain itu, juga tak ketinggalan kecambah, lentho, serta kuah kental penuh rempah.

Tak lama berselang, sendok dan garpu berperang. Duel maut berebut cepat memasukkan tahu campur ..... ke mulut.

Uenak... tenan... Tak heran kalau sang penemunya dulu tak sempat menyebut nama belakang si tahu campur ..... Keburu pelanggan seperti saya pesan untuk porsi ke dua...

Cak Minto pun hingga kini tak pernah tahu nama belakang dagangan yang dijualnya. Walau warungnya terkanal hingga manca, sepertinya ia masih saja berkeras menemukannya. Lihat saja rambutnya tumbuh tak terlalu subur di kepala bagian depan. Padahal bagian belakang gondrong sepunggung. Lebih parah lagi, anaknya yang masih balita juga harus berpikir keras memutar otak membantu mengobati rasa penasaran bapaknya. Akibatnya rambutnya mengalami hal sama dengan sang bapak.

Selamat berjuang, Cak Minto dan anaknya!

PS:
Bagi siapa saja yang tanpa sengaja membaca tulisan ini, mari kita dukung Cak Minto. Para pustakawan yang barang kali benemukan nama belakang tahu campur ..... Atau arkeolog yang menemukan prasasti tahu campur ..... Segera hubungi Cak Minto di tempat praktiknya di dekat Masjid Al Akbar Surabaya. Kalau kesulitan menemukan warung Cak Minto, sekali lagi, tanyakan pada peta berjalan. Siapa lagi kalau bukan Abang Becak. Salam.