Thursday, May 28, 2026

Dari “Pesta Babi” ke “Pesta Sapi”: Belajar Tentang Kepedulian di Hari Raya Idul Adha



Sebuah judul terkadang membuat orang berhenti, penasaran, bahkan bereaksi. Film dokumenter berjudul Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale muncul dengan daya kejut semacam itu. Namun di balik judulnya, dokumenter ini tidak sedang berbicara tentang pesta makan, melainkan tentang manusia, tanah, identitas, dan perubahan besar yang dialami masyarakat adat di Papua Selatan. Film ini menyoroti relasi masyarakat adat dengan tanah leluhur mereka, sekaligus kegelisahan atas perubahan lingkungan dan ruang hidup.

Judul “Pesta Babi” sendiri merujuk pada tradisi budaya masyarakat adat Papua, di mana babi memiliki makna sosial dan simbolik dalam perayaan adat tertentu. Dalam konteks budaya setempat, itu bukan sekadar hewan, tetapi bagian dari identitas, hubungan sosial, dan penghormatan terhadap kehidupan bersama.

Lalu, beberapa hari kemudian, umat Islam di Indonesia memasuki suasana Hari Raya Idul Adha. Jalanan desa ramai. Masjid dipenuhi takbir. Orang-orang berkumpul, membawa sapi atau kambing untuk dikurbankan. Sebagian orang mungkin bercanda menyebutnya “pesta sapi”—hari ketika banyak sapi hadir di berbagai sudut kampung.

Namun jika direnungkan lebih dalam, Iduladha bukanlah pesta daging.

Ia adalah pesta keikhlasan.

Di balik seekor sapi kurban, ada cerita seorang ayah yang menabung diam-diam selama setahun. Ada keluarga yang rela menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit. Ada panitia yang bekerja sejak subuh agar pembagian daging sampai ke rumah-rumah yang mungkin jarang menikmati lauk istimewa.

Kurban mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi mendalam: bahwa sesuatu yang kita cintai terkadang harus dibagikan demi orang lain.

Jika Pesta Babi mengajak kita melihat hubungan manusia dengan tanah, budaya, dan kehidupan bersama, maka Iduladha mengingatkan kita tentang hubungan manusia dengan pengorbanan, empati, dan kepedulian sosial. Keduanya—dengan cara yang sangat berbeda—mengajak manusia untuk berhenti sejenak dan bertanya:

“Apakah kita masih peduli?”

Peduli pada lingkungan yang diwariskan. Peduli pada tradisi yang membentuk manusia. Peduli pada tetangga yang mungkin kesulitan membeli daging. Peduli bahwa kehidupan tidak selalu tentang mengambil, tetapi juga memberi.

Di halaman masjid, seekor sapi mungkin tampak besar dan megah. Tetapi makna terbesarnya justru ada pada tangan-tangan yang membagikan: dari rumah ke rumah, dari hati ke hati.

Mungkin inilah yang menarik untuk direnungkan: manusia sering memakai kata “pesta” untuk sesuatu yang meriah. Padahal pesta paling indah bukan ketika kita makan paling banyak, melainkan ketika paling banyak berbagi.

Maka di tengah gegap gempita Idul Adha, “Pesta Sapi” yang sesungguhnya bukanlah tentang tumpukan daging, tetapi tentang tumbuhnya rasa syukur, solidaritas, dan kasih sayang sosial.

Karena pada akhirnya, peradaban yang baik tidak hanya dibangun oleh apa yang kita konsumsi, tetapi oleh apa yang rela kita korbankan untuk sesama.