Saturday, July 25, 2026

Jika Kamu Sedang Takut Bermimpi

Menanti hujan reda, hatiku bergemuruh.


Ingatlah, Kiyut Sayang. Saat kita berteduh di depan pintu toko yang tutup. Sore itu. Motor Beat yang baru selesai cicilan jadi satu-satunya tunggangan. Ke mana saja kita diantarnya. Belanja, kirim dagangan, bahkan mudik pun kita lakoni dengan si roda dua. Tanpa atap, panas kita nikmati saja. Kalau hujan, kita anggap Allah kasih kita istirahat sejenak. 

Seperti sore itu. Saat hujan memaksa kita berteduh di depan toko tutup. Nekat menerobos hujan resikonya pilek. Anak kita masih bayi. Lagi pula, kamu tahu kan, meriang sehari dua hari saja, tungku dapur kita ikut berhenti berasap. Sabar ya. Kita tunggu hujan reda. Satu jam dua jam tidak mengapa. Itu masih sangat sebentar dibanding meriang dua hari.

Yaaa... aku sedih mendengarmu menggerutu. Saat mobil-mobil tanpa ampun menerjang genangan air di depan kita berteduh. Kamu lindungi Damar yang tidur pulas di gendonganmu. Lalu kubilang, nanti kalau kita punya mobil, nyetirnya pelan saja. Kamu pun tersenyum kecil. Kecil saja, sampai agak sulit membedakan itu senyum atau seringai.

Itu tiga belas tahun lalu. Tepatnya Mei 2013, ulang tahunmu ke 28. Masih sangat muda. Belum tahu siapa yang akan menguasai Indonesia tahun depan. Apalagi tiga belas tahun kemudian.



Kiyut, berteduh sore itu mirip yang kurasakan saat ini. Namun kali ini aku yang menggerutu. Rasanya banyak hal yang masih harus diperbaiki. Namun harus mulai dari mana. Sampai saat kamu mengatakan kalimat yang beberapa saat ini menggema di hati. "Rasanya sampai takut bermimpi," ucapmu. Kiyut, selemah itukah kita saat ini. Sampai awan gelap ini pelan-pelan menyelubungi kita, lalu menutup jarak pandang ke masa depan.

Oh... Ini tidak boleh berlarut-larut...

Kiyut, berteduh sore itu mirip yang kurasakan saat ini. Namun kali ini kita sudah punya banyak bekal. Kalau pasangan muda yang dulu berteduh di depan toko tutup itu dapat mencapai puncak pertama. Mereka pasti juga dapat mencapai puncak-puncak berikutnya.

Dari awal menikah, kita sering ingin mendaki gunung. Tapi belum kesampaian. Rupaya Allah memberikan sensasi mendaki gunung dalam jalur kehidupan. Dulu kita memulai dari nol. Minus bahkan. Pernah kita memuncaki perbukitan, lalu dihadapkan pada lembah yang memaksa kita turun dalam. Memang tujuan kita masih jauh. Ke puncak yang labih tinggi. Maka jangan gontai jika menujunya harus menuruni lembah dalam dan tebing curam. 

Aku yakin, saat ini kita di lembah yang sangat dalam. Mau ke mana lagi kita kalau tidak naik.

Kiyut, puncak memang belum tampak. Namun tak lama lagi.

InsyaAllah...

Thursday, May 28, 2026

Dari “Pesta Babi” ke “Pesta Sapi”: Belajar Tentang Kepedulian di Hari Raya Idul Adha



Sebuah judul terkadang membuat orang berhenti, penasaran, bahkan bereaksi. Film dokumenter berjudul Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale muncul dengan daya kejut semacam itu. Namun di balik judulnya, dokumenter ini tidak sedang berbicara tentang pesta makan, melainkan tentang manusia, tanah, identitas, dan perubahan besar yang dialami masyarakat adat di Papua Selatan. Film ini menyoroti relasi masyarakat adat dengan tanah leluhur mereka, sekaligus kegelisahan atas perubahan lingkungan dan ruang hidup.

Judul “Pesta Babi” sendiri merujuk pada tradisi budaya masyarakat adat Papua, di mana babi memiliki makna sosial dan simbolik dalam perayaan adat tertentu. Dalam konteks budaya setempat, itu bukan sekadar hewan, tetapi bagian dari identitas, hubungan sosial, dan penghormatan terhadap kehidupan bersama.

Lalu, beberapa hari kemudian, umat Islam di Indonesia memasuki suasana Hari Raya Idul Adha. Jalanan desa ramai. Masjid dipenuhi takbir. Orang-orang berkumpul, membawa sapi atau kambing untuk dikurbankan. Sebagian orang mungkin bercanda menyebutnya “pesta sapi”—hari ketika banyak sapi hadir di berbagai sudut kampung.

Namun jika direnungkan lebih dalam, Iduladha bukanlah pesta daging.

Ia adalah pesta keikhlasan.

Di balik seekor sapi kurban, ada cerita seorang ayah yang menabung diam-diam selama setahun. Ada keluarga yang rela menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit. Ada panitia yang bekerja sejak subuh agar pembagian daging sampai ke rumah-rumah yang mungkin jarang menikmati lauk istimewa.

Kurban mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi mendalam: bahwa sesuatu yang kita cintai terkadang harus dibagikan demi orang lain.

Jika Pesta Babi mengajak kita melihat hubungan manusia dengan tanah, budaya, dan kehidupan bersama, maka Iduladha mengingatkan kita tentang hubungan manusia dengan pengorbanan, empati, dan kepedulian sosial. Keduanya—dengan cara yang sangat berbeda—mengajak manusia untuk berhenti sejenak dan bertanya:

“Apakah kita masih peduli?”

Peduli pada lingkungan yang diwariskan. Peduli pada tradisi yang membentuk manusia. Peduli pada tetangga yang mungkin kesulitan membeli daging. Peduli bahwa kehidupan tidak selalu tentang mengambil, tetapi juga memberi.

Di halaman masjid, seekor sapi mungkin tampak besar dan megah. Tetapi makna terbesarnya justru ada pada tangan-tangan yang membagikan: dari rumah ke rumah, dari hati ke hati.

Mungkin inilah yang menarik untuk direnungkan: manusia sering memakai kata “pesta” untuk sesuatu yang meriah. Padahal pesta paling indah bukan ketika kita makan paling banyak, melainkan ketika paling banyak berbagi.

Maka di tengah gegap gempita Idul Adha, “Pesta Sapi” yang sesungguhnya bukanlah tentang tumpukan daging, tetapi tentang tumbuhnya rasa syukur, solidaritas, dan kasih sayang sosial.

Karena pada akhirnya, peradaban yang baik tidak hanya dibangun oleh apa yang kita konsumsi, tetapi oleh apa yang rela kita korbankan untuk sesama.

Saturday, May 17, 2025

Sepele Tapi Bermanfaat. Buah ini Dapat Mengurangi Resiko Darah Tinggi

Tanaman Obat di Sekitar Kita


Sejak kecil saya sudah mengenalnya. Tentu juga sering mengkonsumsinya. Tapi baru tahu sekarang kalau tanaman ini memiliki manfaat yang sangat penting.

Ya, pokak atau leuncak adalah tanaman yang sering tumbuh liar di sekitar kita.