| Menanti hujan reda, hatiku bergemuruh. |
Ingatlah, Kiyut Sayang. Saat kita berteduh di depan pintu toko yang tutup. Sore itu. Motor Beat yang baru selesai cicilan jadi satu-satunya tunggangan. Ke mana saja kita diantarnya. Belanja, kirim dagangan, bahkan mudik pun kita lakoni dengan si roda dua. Tanpa atap, panas kita nikmati saja. Kalau hujan, kita anggap Allah kasih kita istirahat sejenak.
Seperti sore itu. Saat hujan memaksa kita berteduh di depan toko tutup. Nekat menerobos hujan resikonya pilek. Anak kita masih bayi. Lagi pula, kamu tahu kan, meriang sehari dua hari saja, tungku dapur kita ikut berhenti berasap. Sabar ya. Kita tunggu hujan reda. Satu jam dua jam tidak mengapa. Itu masih sangat sebentar dibanding meriang dua hari.
Yaaa... aku sedih mendengarmu menggerutu. Saat mobil-mobil tanpa ampun menerjang genangan air di depan kita berteduh. Kamu lindungi Damar yang tidur pulas di gendonganmu. Lalu kubilang, nanti kalau kita punya mobil, nyetirnya pelan saja. Kamu pun tersenyum kecil. Kecil saja, sampai agak sulit membedakan itu senyum atau seringai.
Itu tiga belas tahun lalu. Tepatnya Mei 2013, ulang tahunmu ke 28. Masih sangat muda. Belum tahu siapa yang akan menguasai Indonesia tahun depan. Apalagi tiga belas tahun kemudian.
Kiyut, berteduh sore itu mirip yang kurasakan saat ini. Namun kali ini aku yang menggerutu. Rasanya banyak hal yang masih harus diperbaiki. Namun harus mulai dari mana. Sampai saat kamu mengatakan kalimat yang beberapa saat ini menggema di hati. "Rasanya sampai takut bermimpi," ucapmu. Kiyut, selemah itukah kita saat ini. Sampai awan gelap ini pelan-pelan menyelubungi kita, lalu menutup jarak pandang ke masa depan.
Oh... Ini tidak boleh berlarut-larut...
Kiyut, berteduh sore itu mirip yang kurasakan saat ini. Namun kali ini kita sudah punya banyak bekal. Kalau pasangan muda yang dulu berteduh di depan toko tutup itu dapat mencapai puncak pertama. Mereka pasti juga dapat mencapai puncak-puncak berikutnya.
Dari awal menikah, kita sering ingin mendaki gunung. Tapi belum kesampaian. Rupaya Allah memberikan sensasi mendaki gunung dalam jalur kehidupan. Dulu kita memulai dari nol. Minus bahkan. Pernah kita memuncaki perbukitan, lalu dihadapkan pada lembah yang memaksa kita turun dalam. Memang tujuan kita masih jauh. Ke puncak yang labih tinggi. Maka jangan gontai jika menujunya harus menuruni lembah dalam dan tebing curam.
Aku yakin, saat ini kita di lembah yang sangat dalam. Mau ke mana lagi kita kalau tidak naik.
Kiyut, puncak memang belum tampak. Namun tak lama lagi.
InsyaAllah...