![]() |
| Pohong godog alias singkong rebus, hidangan asik selesai sholat tarawih. |
Showing posts with label boyolali. Show all posts
Showing posts with label boyolali. Show all posts
Wednesday, July 25, 2012
Jaburan
Label:
boyolali,
budaya,
jaburan,
krambilsawit,
krupuk,
pohong,
sholat tarawih,
singkong
Wednesday, January 25, 2012
Kyai Slamet, Si Motor Antik
![]() |
| Kyai Slamet sedang ngikuti kontes kecantikan |
Entah sudah berapa juta mil jarak yang ditempuh Kyai Slamet (yang ini bukan kerbaunya Kraton Surakarta lho...). Yang jelas jauh sebelum kutunggangi, seorang bapak tua di Banyudono, Boyolali sana telah mengendarai motor antik ini selama sewindu. Baru saat aku menginjak usia 17 tahun, seiring syarat untuk boleh mengantongi Surat Ijin Mengemudi (SIM), Kyai Slamet berpindah ke tanganku. Walau waktu itu aku tak langsung mengurus salah satu kartu anti tilang itu. Sebab kepindahan Kyai Slamet ke tanganku bukan karena aku sudah punya SIM. Sebagaimana umumnya para pengandara di negeri kita tercinta, Indonesia.
Saat itu aku duduk dibangku kelas satu SMA 1 Simo, menjelang kenaikan kelas. Walau sekolah ndeso, soal gaya nggak mau kalah sama yang di TV. Saat itu juga aku baru belajar naik motor. Teman-teman bilang, motor pertama kok bekas. Tepat seperti Samuel James Witwicky, yang malu diejek teman-temannya saat dibelikan sebuah Chevy Camaro butut yang ternyata seekor robot alein bernama Bumblebee. Begitu juga keberkahan yang hadir bersama Kyai Slamet. Honda Astrea Star keluaran tahun 1992 ini walau butut masih mampu degeber hingga 95 km/jam. Apalagi saat musim hujan tiba. Ketika motor-motor lain yang relatif baru mogok kena hujan, Kyai Slamet dengan percaya diri melenggang di jalan yang banjir hingga menutupi knalpot.
Hingga kini Kyai Slamet masih setia menemaniku.
Monday, June 20, 2011
Nyamuk's Invasion
![]() |
| Terkapar sehabis bertempur menghadapi infasi nyamuk. |
Ada beberapa jenis binatang yang di Surabaya Zoo tidak dipelihara. Namun bukan berarti mereka absen dari sana. Malah mereka sudah eksis sebelum kebun binatang terlengkap Indonesia itu ada. Salah satu dari mereka adalah mosquito, atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai nyamuk. Ibuku yang orang Boyolali memanggilnya jingklong. Karena binatang satu ini endemik di sepanjang katulistiwa hingga daerah iklim sedang, tak heran jika setiap bahasa mengenalnya dengan kata berbeda.
Nyamuk memang binatang yang luar biasa. Walau tidak dilindungi, justeru diburu dan dibasmi, mereka malah makin lestari. Mungkin perburuan nyamuk sudah terjadi sejak peradaban manusia dimulai.
Teknologi perburuan nyamuk pun mengikuti perkembangan jaman. Dari kebas nyamuk batu dari jaman batu, kebas nyamuk perunggu dari jaman perunggu, kebas nyamuk lidi dari jaman lidi. Dan yang terbaru adalah kebas nyamuk listrik.
Teman dari belahan dunia lain datang dan numpang tidur di rumah. Saat malam tiba, suara berisik terdengar dari kamarnya. Saat kulihat, rupanya ia sedang berpesta. Tangan kanannya memegang raket aneh. Mirip kepunyaan atlet di TV tapi lebih gemuk. Saat dipencet tombol, lampu biru menyala dan bersuara seperti kumpulan lebah terbang. "Awas minggir!" katanya. Dan "Tarr..tar...tar....", seekor nyamuk yang melintas di depan hidungku tewas terpanggang. Terbakar seperti kembang api. Aku pun hanya terbengong dan mengelus-elus hidungku yg hampir tersambar alat penyiksa sadis itu.
Tak butuh waktu lama untuk membuatku jatuh cinta. Malam itu juga aku menidurinya. Dan perang pun baru dimulai. Oh, kebas nyamuk listrik. Kau menemaniku melanjutkan peperangan abadi melawan nyamuk. Hajaaarrr!!!
Wednesday, November 24, 2010
Lagi-lagi ''Nyabu''
![]() |
| Adalah tugas ibu-ibu korban Merapi untuk membagi jatah bubur tiap pagi |
Pagi ini, insyaallah, terakhir kali nyabu alias sarapan bubur. Setelah jumatan nanti siang, keenam puluh pengungsi yang masih tersisa di halaman kantor DPRD Boyolali, akan kembali pulang. Tiga Jumat sudah waktu mereka dihabiskan di halaman gedung wakil rakyat.
Uang sudah menipis. Energi pun hampir habis. Walau di rumah sudah tak ada lagi yang dikais. Asal sudah di tanah sendiri, tak ada lagi yang bikin nangis.
Mereka adalah warga Desa Samiran, Suroteleng, Jombong, Bulurejo, Kecamatan Selo. Sebelumnya ada 400-an pengungsi berjejalan di sini. Sebagian besar nekat pulang. Padahal Gunung Merapi masih berstatus 'AWAS'.
''Sampun mboten tahan pengen ningali kahanan,'' ujar Mbah Mulyo warga Desa Samiran. Dia merasa tidak tenang menggantungkan nasib pada orang lain. Memang tampak demikian adanya. Di pengungsian, mereka merasa hanya menunggu saat makan sambil melamun. ''Nunggu dicadong bantuan,'' ungkap Samirah warga Jombong.
Seperti halnya bubur yang menjadi menu sarapan tiap pagi. Adalah bantuan pribadi dari seorang dermawan.
Tegarlah saudara-saudaraku korban letusan Merapi...
Subscribe to:
Posts (Atom)



