Tuesday, December 13, 2011

Bermain Api

Bermain api itu berbahaya sekaligus menyenangkan

Pertama manusia mengenal api, mereka gunakan untuk menghangatkan badan dan memasak makanan. Pada peradaban selanjutnya derajatnya naik pangkat, api menjadi sesembahan. Dan saat manusia merasa butuh saling mengalahkan, api adalah senjata.

Kemudian, ketika peradaban manusia memasuki tahap saling memakan, api adalah mainan.

Namrudz yang lalim pernah membakar Ibrahim karena telah mengganggu stabilitas sosial berketuhanan kala itu. Namun Tuhan berpihak pada Ibrahim kemudian menyelamatkan pemuda pemberani itu dari jilatan si jago merah.

Kini bukan lagi jaman para nabi. Penguasa lalim tak perlu lagi main perintah dan menjatuhi hukuman mati.

Melainkan rakyatnyalah yang akan membakar diri agar didengar penguasa lalim. Walau pengorbanan ini begitu konyol. Sebab mereka yang duduk di kursi empuk tak akan peduli derita rakyatnya. Mungkin hanya akan jadi obrolan di meja makan.

"Anak kuliahan yang bakar diri itu, siapa namanya, sudah mati lho..,"

"Ooh..."

Wednesday, November 30, 2011

Filosofi Nyapu

Larik-larik debu yang tertata rapi oleh sapuan seikat lidi.

Sudah tak perlu dipungkiri lagi. Bahwa saya 100 % anak desa. Namun, pelajaran dari desa memang tak ada habisnya. Kali ini saya berkesempatan untuk mengambil satu hikmah. Ialah filosofi nyapu.

Anda sekalian saya yakin mengenal sapu lidi. Perangkat sederhana untuk mengumpul sampah yang terbuat dari kumpulan tulang daun kelapa yang diikat.

Yang namanya sapu tentu gunanya untuk menyapu. Namun di desa di mana saya menjadi anggota warga baru, yang namanya sapu fungsinya juga untuk menyisir debu. Jadi tahu kan yang disisir bukan cuma rambut.

Kegiatan macam ini hanya bisa dilakukan di halaman tanah yang cukup luas. Di kota akan sulit mengekspresikan seni yang satu ini. Selain halaman sempit, halaman rumah di kota juga keras karena berupa aspal atau paving jalanan.

Mungkin, di desa di mana saya menjadi anggota warga baru, halaman luas dengan debu yang tertata rapi akan menunjukkan strata sosial. Makanya kegiatan menyapu latar, walau hanya dengan alat sederhana, merupakan aktivitas prestisius sekelas mengayun steak golf harga puluhan juta di padang golf nan mewah. :)

Thursday, November 24, 2011

Para Pengejar Matahari

Jemuran yang tak kering tanpa matahari
"Nitip njemur baju di sini ya, Om," kata Mbak Sri sambil menyiapkan jemuran dari kayu dan membawa seember penuh baju basah habis dicuci. "Ngejar matahari, kalo sore mesti hujan," ujar ibu dua putra ini. Kebetulan rumahku menghadap timur. Sehingga depan rumah selalu bermandikan sinar matahari pagi.


Musim hujan kembali menyapa. Saatnya Malaikat Mikail sibuk membuka dan menutup kran hujan. Begitu pula para ibu yang kudu lebih peka melihat tanda dari langit. Harus lebih jeli mengolah jadwal kerjanya. Sebab jika perhitungan dan prediksi mereka tidak tepat, akan kacau tatanan peradaban.

Kok bisa begitu?

Tentu bisa. Bayangkan saja jika baju yang kita pakai kotor, kemudian dicuci, kemudian tak kering karena matahari nggak nongol, sementara baju serep di lemari sudah habis. Mau menutupi badan pakai daun pisang?

Ya kalau kita mau pakai baju yang gak di cuci, atau mau pakai baju basah yang gak dijemur, masalah akan selesai. Namun masalah akan jadi panjang kalau sampai pakai daun dan kulit hewan buat nutupi malu. Wah, balik maning ke jaman purba.

Oleh karenanya, berterimakasihlah pada para pengejar matahari. Yang biasanya peran ini dimainkan dengan baik oleh ibu atau istri kita, juga para asisten rumah tangga.