Sunday, August 29, 2021

Masa Depan Dimulai Kemarin

Lah, ini kan tahun 2021. Abad 21, waktu ketika Doraemon berasal. Iya memang ini masa depan. Kalau menurut film jaman dulu. Baru nyadar? Bukan, ini bukan cetrita fiksi. Karena tiba-tiba usia saya sudah 38 ajah. Anak saya yang paling besar hampir 10 tahun. Beranjak remaja. Padahal rasanya baru kemarin saya naik bus Sumber Kencono, dari pedalam Boyolali menuju Surabaya. Kuliah di kampus ternama, di jurusan cangkrukan. Ha..ha..

Bukan.. bukan.. Tulisan ini bukan kisah nostalgia saya.

***

Rasanya tahun ini, eh.. sebenarnya tahun 2020 lalu deng, masa depan dimulai. Kalau dulu cerita tentang manusia yang dipantau oleh server di setiap geraknya hanya ada dalam film. Seperti film-film agen rahasia dan futuristik. Kini terjadi. "In Time" yang dibintang  Amanda Seyfried dan Justin Timberlake jadi contoh yang bagus. Di mana setiap manusia di bumi akan diimplan jam digital di lengannya untuk menandai waktu/usia yang tersisa. Waktu ini dapat di-top up dengan uang. Artinya, orang kaya dapat hidup selamanya. Yang kayak gini saja, sekarang sudah terjadi.

Mungkin agak lebai ya kalau dibandingkan dengan chip yang diimplan di semua orang. Namun, tahukah, Kawan. Saat ini kita selalu dipantau oleh mata yang secara sadar kita beli dengan harga yang tidak murah. Yes, itulah smart phone. Alat yang sedianya diciptakan untuk berkomunikasi, namun lebih sering jadi obat mati gaya di setiap saat. Secara tidak sadar, ia adalah mata-mata yang mengintai kita dan melaporkan setiap gerak gerik kita. Bahkan dalam sepi dan privatnya toilet, ia terus bekerja. 

Saking cintanya kita pada smart phone, tentu benda ini akan selalu berada dalam jangkauan. Inilah yang membuat kita secara tidak sadar mengijinkan diri selalu diawasi.

Kemudian muncul PeduliLindungi yang menunggangi pandemi. Entah siapa yang menunggangi dan ditunggangi. Atau mungkin mereka berteman. Belum ada bukti.

Aplikasi yang katanya besutan pemerintah ini akan mengawasi setiap gerak kita. Untuk mengkonfirmasi status setiap orang terhadap covid 19 dan vaksin. Terkait ijin akses terhadap banyak sekali fasilitas umum dan hak mobilitas kita. 

Ke depan pasti akan semakin banyak hal-hal yang mensyaratkan PeduliLindungi. Selama masih banyak keuntungan yang dapat dikeruk dari pandemi.

Mari kita hidup di masa depan dengan tetap kritis. Sebelum kritis itu diacam. Eh.. sudah ya?

Tuesday, May 2, 2017

Andira

Baru setahun usianya. Namun ia berhasil merebut perhatian orang serumah. Ayah, Bunda, Mas Damar, Aa Linggar takluk dibuatnya.

Sunday, April 30, 2017

Mbah Giyem

Ialah perempuan yang suka memaksakan kehendak.

Memaksa anak-anaknya sekolah, sementara ia sendiri berjalan 30 km tiap jam 1 pagi ke kota menjajakan tempe dan tiwul buatannya, bersama suaminya yang memikul arang. Saat itu anak-anak tetangga digiring orangtuanya bekerja di sawah dan ladang. 

Bahkan ia tega mengambil kotoran sapi, dilempar ke mulut anaknya jika mereka malas sekolah. Baginya sekolah adalah masa depan.

Ia juga yang memutus sendiri urat malu, memohon pada seorang kaya di kota untuk menitipkan anak bekerja di rumah mereka, dengan SPP sekolah sebagai upah, demi bisa meneruskan pendidikannya. 

Keenam anaknya telah merasakan "ngenger" pada orang kaya di kota.

Tak hanya itu. Ia juga yang masih sempat mengajak cucunya berkebun saat libur sekolah. Menanam jagung dan kacang. Sebelum kemudian menikmati sebutir kelapa muda yang ia petik dengan batang bambu.

Dua tahun lalu ia terjatuh saat berjalan pulang. Jatuh yang biasa. Jatuh yang sebenarnya biasa ia alami waktu masih muda. Namun di usianya yang ke 88 tahun, dengan tulang yang dimakan waktu, jatuh kali ini mematahkan pangkal tulang pahanya. Memaksanya beristirahat sejenak, memulihkan semangat sebelum menunaikan rukun Islam yang kelima. Sepulang dari tanah suci, ia sering bercerita, kilasan-kilasan ingatan tentang perjalanan luar biasanya itu.

Tak lama kemudian, ia mulai malas makan. Sehari hanya beberapa suap. Badannya kecil layaknya mumi. Namun masih saja ia membikin anak-anaknya tertawa-tawa saat ditanya, nama anak-anaknya yang tak lagi ia hafal. Anak, menantu, cucu, tak henti mendoakannya.

***

Kini kau telah tiada. Meninggalkan anak-anak yang sudah jadi "orang". Juga cucu dan cicit yang akan selalu mengenang perjuanganmu.